Sabtu, 09 Februari 2013

CONTOH PAWARTA BAHASA JAWA


CONTOH PAWARTA BAHASA JAWA
semoga bermanfaat bagi teman teman semua

KRUPUK ABANG PUTIH


Bantul, www.jogjatv.tv – Ing taun 70-an, krupuk pohung, ingkang namanipun  krupuk abang putih,  mujudaken nyamikan ingkang mirunggan. Sinaosa bahan bakunipun glepung tapioka lan cara ngocalipun prsaja, ananging krupuk punika, sakelangkung miraos, boten kawon kaliyan krupuk damelan pabrik. Ananging awit pangrembakaning  jaman, krupuk punika tansaya kadhesuk, satemah cacahing perajin kantun sekedhik. 
Padhukuhan Klisat Srihardono Pundong Bantul, wiwit jaman kamardikan kawentar minangka teleng  produksi krupuk abang putih. Warga  ing desa kasebat, rikala samanten racak makarya minangka perajin  krupuk pohung punika. Nanging samangke cacahing perajin krupuk abang putih,  kantun sekedhik. Mratahipun krupuk damelan pabrik njalari krupuk abang putih, kirang dipun pikajengi  masyarakat.
Sabar, satunggaling perajin krupuk abang putih, mratelakaken, saben dinten ngocal 50 ngantos 70 kg glepung tapioka, kangge damel krupuk,  suda kathah tinimbang 15 taun kapengker. Rikala semanten Sabar damel  krupuk ngantos sa-ton saben dinten, dipun biyantu dening welasan tanaga karya. Samangke Sabar ndamel krupuk nasionalis punika namung kaliyan semahipun. Regi krupuk abang putih mentah Rp 18.000,00 saben kilo . Samangke panyadenipun saya winates, namung dipun sade dhateng  Imogiri iring kidul lan Kecamatan Panggang.
Awit saking punika, para perajin ngajab  pemerintah cawe-cawe  milujengaken produksi krupuk mirunggan saking Pundong punika.

Minggu, 03 Februari 2013

PREDIKSI SOAL UN SMA 2013


                 PREDIKSI SOAL UN SMA 2013

Prediksi UN SMA 2013. Pelaksanaan ujian nasional tinggal beberapa bulan lagi. Bagi siswa tingkat SMA/ MA, sangatlah penting untuk belajar dengan giat. Ini melihat pemerintah telah membuat beberapa kebijakan baru tentang pelaksanaan ujian nasional 2013 ini. 

Untuk memudahkan fokus dalam belajar, siswa SMA/MA perlu mengetahui dan mempelajari tentang Kisi-Kisi UN 2013. Pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan telah menjabarkan beberapa poin standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dilulusi siswa untuk akhirnya dapat lulus dalam UN 2013. SKL UN 2013 yang digodok pada bulan Oktober 2012 ini katanya akan segera disosialisasikan ke kalangan pendidikan.
Meski begitu, sahabat masih dapat mempelajari beberapa kisi-kisi UN pada tahun sebelumnya. Saya yakin bahwa kisi-kisi SKL UN pada tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan pada tahun sebelumnya. Nah, untuk itu jika sahabat ingin mendownload kisi-kisi UN yang sebelumnya, silakan download di Download Kisi-Kisi SKL UN 2013.

Contoh Prediksi UN SMA 2013

Dengan mengetahui kisi-kisi UN 2013, kita sebenarnya dapat memperkirakan dengan pasti jenis dan model soal yang akan diujikan pada UN 2013 nanti. Itulah pentingnya mempelajari kisi-kisi. Soal yang dikeluarkan pemerintah tidak akan keluar dari SKL UN yang telah dilansir. Meski begitu, pemerintah tetap menyarankan kita untuk berhati-hati terhadap pihak tertentu yang menjual prediksi UN atau pun kunci jawaban UN. Kemendiknas mengeluarkan SKL UN 2013 hanya dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar ujian, bukan dengan mengeluarkan butir-butir soal.
Oh ya, perlu diketahui bahwa UN tahun ini memang sedikit lebih ribet lagi. Karena jumlah paket soal yang direncanakan adalah 20 paket. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya 5 paket, pemerintah membuat kebijakan baru tentang ujian nasional dengan tujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan efektifitas ujian nasional sebagai salah satu media untuk mengukur keberhasilan pembelajaran di kelas.
Lanjut ... Untuk memudahkan download Prediksi UN SMA 2013 ini, saya telah mengupload beberapa contoh prediksi soal pada tahun-tahun sebelumnya. So, jujur saja untuk prediksi soal tahun 2013 ini masih berisi beberapa soal pada tahun sebelumnya. Ya kembali lagi ke definisi awal tadi, bahwa prediksi soal UN tidak pernah jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Oke, soal-soal ini telah saya upload di hosting wordpress gratisan. Untuk mendownload Prediksi Soal UN SMA 2013, langsung saja klik pada link yang telah saya sediakan di bawah ini. Jika diklik, akan langsung muncul tombol SAVE. 

Download Prediksi UN 2013

Untuk jenis soal biologi, kimia dan fisika, dapat sahabat lakukan dengan klik secara biasa (jangan klik kanan). Untuk mengextraxt file (file berikut dalam ekstensi .RAR, lakukan klik kanan pada file hasil download kemudian pilih EXTRACT HERE).
Demikianlah apa yang dapat saya usahakan. Insya Allah jika masanya telah tiba, saya kembali akan mengupload beberapa jenis soal yang dapat sahabat download untuk dipelajari. Oke?! Selamat belajar. Jangan lupa selalu berdoa agar diberi kemudahan dalam persiapan UN tahun ini. 


Kumpulan Soal-soal Prediksi UN SMP 2013

Kumpulan Soal-soal Prediksi UN SMP 2013 - Download Gratis Soal Ujian Nasional Tahun 2013 SMP - Pembahasan Soal dan Kunci Jawaban UN 2013 | Ujian Nasional atau UN tidak lama lagi akan digelar. Ada yang berbeda dari UN tahun sebelumnya yaitu paket soal per ruangan yaitu 20 paket soal. Ini sangat menjadi beban siswa yang akan mengikuti Ujian Nasional

Banyak cara yang dilakukan orang tua agar anaknya lulus UN mulai dari menitipkan anaknya di Bimbel sampai-sampai ada yang nyari kunci jawaban segala. Tapi untuk kalian pantasnya lebih baik belajar dari sekarang agar pas UN nanti tidak kelabakan dan kesusahan mengerjakan soal-soal ujian nasional. 



Berikut ini ada file-file yang bisa anda download secara gratis, dengan mengklik link-link yang ada di bawah ini. 



Demikian artikel tentang Kumpulan Soal-soal Prediksi UN SMP 2013 semoga bermanfaat, jangan lupa juga untuk dikerjakan soal-soalnya.

Senin, 28 Januari 2013

materi matematika kelas X SMK

matematika smk kelas x

A.      Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1.   Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil
1. 1          Menerapkan operasi pada bilangan riil
1. 2            Menerapkan operasi pada bilangan berpangkat
1. 3            Menerapkan operasi pada bilangan irasional
1. 4            Menerapkan konsep logaritma
2.   Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep aproksimasi kesalahan
2. 1          Menerapkan konsep kesalahan pengukuran
2. 2            Menerapkan konsep operasi hasil pengukuran
3.   Memecahkan masalah berkaitan sistem persamaan dan pertidaksamaan linier dan kuadrat
3. 1          Menentukan himpunan penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan linier
3. 2            Menentukan himpunan penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan kuadrat
3. 3            Menerapkan persamaan dan pertidaksamaan kuadrat
3. 4            Menyelesaikan sistem persamaan
4.   Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep matriks
4. 1          Mendeskripsikan macam-macam matriks
4. 2            Menyelesaikan operasi matriks
4. 3            Menentukan determinan dan invers
5.   Menyelesaikan masalah program linier
5. 1          Membuat grafik himpunan penyelesaian sistem pertidaksamaan linier
5. 2            Menentukan model matematika dari soal ceritera (kalimat verbal)
5. 3            Menentukan nilai optimum dari sistem pertidaksamaan linier
5. 4            Menerapkan garis selidik
6.   Menerapkan logika matematika dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor
6. 1          Mendeskripsikan pernyataan dan bukan pernyataan (kalimat terbuka)
6. 2            Mendeskripsikan ingkaran, konjungsi, disjungsi, implikasi, biimplikasi dan ingkarannya
6. 3            Mendeskripsikan invers, konvers dan kontraposisi
6. 4            Menerapkan modus ponens, modus tollens dan prinsip silogisme dalam menarik kesimpulan
7.   Menerapkan perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri dalam pemecahan masalah
7. 1          Menentukan nilai perbandingan trigonometri suatu sudut.
7. 2            Mengkonversi koordinat kartesius dan koordinat kutub
7. 3            Menerapkan aturan sinus dan kosinus
7. 4            Menentukan luas suatu segitiga
7. 5            Menerapkan rumus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut
7. 6            Menyelesaikan persamaan trigonometri
8.   Memecahkan masalah yang berkaitan dengan fungsi, persamaan fungsi linier dan fungsi kuadrat
8. 1          Mendeskripsikan perbedaan konsep relasi dan fungsi
8. 2            Menerapkan konsep fungsi linier
8. 3            Menggambarkan fungsi kuadrat
8. 4            Menerapkan konsep fungsi kuadrat
8. 5            Menerapkan konsep fungsi eksponen
8. 6            Menerapkan konsep fungsi logaritma
8. 7            Menerapkan konsep fungsi trigonometri
9.   Menerapkan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah
9. 1          Mengidentifikasi pola, barisan, dan deret bilangan
9. 2          Menerapkan konsep barisan dan deret aritmatika
9. 3          Menerapkan konsep barisan dan deret geometri
10.     Menentukan kedudukan, jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi dua
10. 1      Mengidentifikasi sudut
10. 2      Menentukan keliling bangun datar dan luas daerah bangun datar
10. 3      Menerapkan transformasi bangun datar
11.     Menentukan kedudukan, jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi tiga
11. 1      Mengidentifikasi bangun ruang dan unsur-unsurnya
11. 2      Menghitung luas permukaan
11. 3      Menerapkan konsep volume bangun ruang
11. 4      Menentukan hubungan antarunsur-unsur dalam bangun ruang
12.     Menerapkan konsep vektor dalam pemecahan masalah
12. 1      Menerapkan konsep vektor pada bidang datar
12. 2      Menerapkan konsep vektor pada bangun ruang
13.     Memecahkan masalah dengan konsep teori peluang
13. 1      Mendeskripsikan kaidah pencacahan, permutasi, dan kombinasi
13. 2      Menghitung peluang suatu kejadian
14.     Menerapkan aturan konsep statistik dalam pemecahan masalah
14. 1      Mengidentifikasi pengertian statistik, statistika, populasi, dan sampel
14. 2      Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram
14. 3      Menentukan ukuran pemusatan data
14. 4      Menentukan ukuran penyebaran data
15.     Menerapkan konsep irisan kerucut dalam memecahkan masalah
15. 1      Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan lingkaran
15. 2      Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan parabola
15. 3      Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan elips
15. 4      Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan hiperbola
16.  Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah
16. 1   Menjelaskan secara intuitif arti limit fungsi di suatu titik dan di tak hingga
16. 2   Menggunakan sifat limit fungsi untuk menghitung bentuk tak tentu fungsi aljabar dan trigonometri
16. 3  Menggunakan konsep dan aturan turunan dalam perhitungan turunan fungsi
16. 4  Menggunakan turunan untuk menentukan karakteristik suatu fungsi dan memecahkan masalah
16. 5  Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan ekstrim fungsi dan penafsirannya
17.  Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah
17. 1  Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu
17. 2  Menghitung integral tak tentu dan integral tentu dari fungsi aljabar dan fungsi trigonometri yang sederhana
17. 3  Menggunakan integral untuk menghitung luas daerah di bawah kurva dan volum benda putar


B.      Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.



Bab I
Pendahuluan
A.      Latar Belakang
Matematika bagi siswa SMK pada umumnya merupakan mata pelajaran yang tidak disenangi. Guru sebagai pendidik dalam hati bertanya, mengapa mereka tidak menyenanginya ?. Berdasarkan pertanyaan tersebut perlu adanya pemecahan, salah satunya adalah dalam menyampaikan materi matematika perlu memperhatikan pendekatan diantaranya metode mengajar yang lebih menarik disamping guru juga harus mempunyai kompetensi dalam menjelaskan konsep-konsep dasar materi / pokok bahasan matematika yang akan diajarkan kepada siswa, karena guru merupakan faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan anak didik.
Konsep - konsep dasar materi / pokok bahasan matematika, khususnya Aproksimasi ini merupakan materi yang harus dikuasai oleh siswa SMK karena sangat menunjang kelancaran penyampaian materi lainnya. Pada waktu melaksanakan pelajaran praktik, siswa kadang kala melaksanakan pengukuran, maka hal tersebut ada keterkaitannya dengan aproksimasi. Oleh karena itu guru matematika SMK perlu memahami pembelajaran aproksimasi di sekolahnya.
B.      Tujuan
Setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan ( diklat ) peserta diharapkan mampu menjelaskan dan memberi contoh :
1.       pembulatan hasil pengukuran ditentukan berdasar konsep aproksimasi.
2.       salah mutlak, salah relatif, jumlah dan hasil kali dua pengukuran.
C.      Ruang Lingkup
Bahan ajar Aproksimasi dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi guru matematika SMK dalam menjelaskan konsep-konsep dasar materi / pokok bahasan matematika yang akan diajarkan kepada siswa. Hal-hal yang akan dibahas meliputi : : Pengertian Aproksimasi, Pembulatan, Salah mutlak, Salah relatif, Persentase Kesalahan, Toleransi dan Batas-batas Pengukuran.

Bab II
Aproksimasi
A.      Pengertian Aproksimasi
Dalam percakapan sehari-hari, sering kita menyebut suatu bilangan, misalnya “ Keranjang ini isinya 12 butir telur ”, atau “ Model pakaian ini memerlukan kain 3 meter ” . Dua contoh kalimat tadi menyebut bilangan yang diperoleh secara berbeda, yaitu bilangan 12 diperoleh dari kegiatan “ membilang ” karena bilangan yang dimaksud adalah eksak yang hanya ada satu jawaban yang tepat untuk persoalan itu, sedangkan bilangan 3 diperoleh dari “ pengukuran ” karena bilangan yang didapat hasilnya tidak pasti ( tidak eksak ) mungkin 2,99… meter, sehingga dibulatkan saja menjadi 3 meter. Dari kegiatan pengukuran tersebut walaupun telitinya dalam mengadakan suatu pengukuran, tidak akan dapat menyatakan ukuran yang tepat, meskipun suatu ukuran yang demikian itu ada. Dengan demikian bilangan yang diperoleh dari mengukur itu hanyalah pendekatan atau pembulatan. Pembulatan seperti ini disebut aproksimasi.
B.       Pembulatan
Semua pengukuran adalah “ pendekatan “ oleh karena itu hasil-hasil pengukuran panjang, massa, waktu, luas dan sebagainya harus diberikan menurut ketelitian yang diperlukan.
Pembulatan dilakukan dengan aturan, jika angka berikutnya 5 atau lebih dari 5 maka nilai angka di depannya ditambah satu. Kalau angka berikutnya kurang dari 5 maka angka tersebut dihilangkan dan angka di depannya tetap.
Ada tiga macam cara pembulatan, yaitu :
a.       pembulatan ke ukuran satuan ukuran terdekat
b.       pembulatan ke banyaknya angka desimal, dan
c.        pembulatan ke banyaknya angka-angka yang signifikan
1.       Pembulatan ke Ukuran Satuan Terdekat
Dalam hal pembulatan ke ukuran satuan yang terdekat, ditetapkan lebih dahulu satuan terkecil yang dikehendaki oleh yang mengukur
Contoh :
a.       165,5 cm  = 166 cm , dibulatkan ke cm terdekat
b.       2, 43 kg   = 12 kg , dibulatkan ke kg terdekat
c.        14,16 detik  = 14,2 detik, dibulatkan ke persepuluh detik terdekat
2.       Pembulatan ke Banyaknya Angka-angka Desimal
Untuk mempermudah pekerjaan, kadang-kadang perlu diadakan pembulatan suatu bilangan desimal sampai ke sekian banyak tempat desimal sesuai dengan maksud yang dikehendaki.
Contoh :
5,47035  =  5,4704 dibulatkan sampai empat tempat desimal
= 5,470  dibulatkan sampai tiga tempat desimal
= 5,47  dibulatkan sampai dua tempat desimal
= 5,5   dibulatkan sampai satu tempat desimal
3.       Pembulatan ke Banyaknya Angka-angka yang Signifikan
Cara lain untuk menyatakan ketelitian pendekatan, yaitu dengan cara menetapkan banyaknya angka yang signifikan. Istilah signifikan berasal dari bahasa Inggris “ Significant “ yang berarti “ bermakna “.Kita menyatakan bahwa 64,5 cm mempunyai 3 angka signifikan dan 65 cm mempunyai 2 angka yang signifikan.
Jika diketahui suatu bilangan, berikut adalah aturan-aturan untuk menentukan angka-angka mana yang signifikan :
a.       Angka yang tidak nol selalu signifikan
b.       Angka “ 0 “ itu signifikan jika letaknya diantara angka-angka yang signifikan.
c.        Angka “ 0 “ itu tidak pernah signifikan jika mendahului angka-angka yang tidak nol bahkan jika angka-angka nol itu muncul sesudah tanda tempat desimal
d.       Angka “ 0 “ itu signifikan jika muncul setelah tanda tempat desimal dan angka-angka lain yang signifikan
e.       Angka “ 0 “ pada suatu bilangan, khususnya yang ditandai “strip “ atau “ bar “ adalah signifikan.
Contoh :
1)    807003    Disini mempunyai 6 angka signifikan.
2)       032,00 m.  Dua angka nol ( dibelakang ) di sini menyatakan bahwa panjang telah diukur sampai ke perseratusan meter terdekat, jadi signifikan, di sini ada 4 angka signifikan
3)        0,0720 km. Dua angka nol yang pertama menunjukkan tempat koma, jadi tidak signifikan. Nol yang ketiga menunjukkan bahwa panjang telah diukur sampai ke persepuluhan meter, jadi signifikan. Di sini ada 3 angka signifikan
4)        20,080 km. Di sini mempunyai 5 angka yang signifikan
5)        500    - dalam hal ini, dua angka nol bisa signifikan atau bisa tidak signifikan. ( signifikan jika aslinya memang 500, tidak signifikan jika aslinya tidak 500 misal: 496 atau 455 yang dibulatkan ke ratusan terdekat.) Sehingga untuk memperjelas digunakan tanda strip misal:  dan  disini mempunyai 3 angka signifikan  
Rangkuman :
1.         Aproksimasi merupakan cara pendekatan atau pembulatan dari hasil suatu pengukuran yang dilakukan.
2.         Aturan pembulatan adalah jika angka berikutnya 5 atau lebih dari 5 maka angka didepannya ditambah satu, tetapi jika angka berikutnya kurang dari 5 maka angka tersebut dihilangkan dan angka didepannya tetap.
3.         Cara pembulatan dapat dilakukan dengan pembulatan ke ukuran satuan terdekat, pembulatan ke banyaknya angka desimal, dan pembulatan ke banyaknya angka-angka yang signifikan.
Latihan 1 :
1.       Manakah dari pernyataan berikut ini yang eksak ( ditemukan dengan membilang ) dan mana yang merupakan pendekatan  (ditemukan dengan pengukuran ). Jelaskan !
a.       Waktu yang digunakan untuk memasak makanan
b.       Banyaknya kancing yang diperlukan untuk satu kemeja panjang
c.        Harga 1 kg gula pasir
d.       Volume minyak dalam botol ialah 1 liter
e.       Jumlah uang yang dikumpulkan oleh suatu kelas untuk dana sosial
f.         Kecepatan kendaraan yang menabrak pohon.
g.       Banyaknya gula yang diperlukan untuk membuat kue tar
h.       Beratnya suatu paket ialah 235 gram
i.          Banyaknya rupiah untuk menukar uang kertas Rp. 1000,-
2.       Jelaskan cara membulatkan  684573 ke :
a. puluhan         b. ratusan      c. ribuan        d. puluh ribu yang terdekat
3.       Bulatkan sampai satu tempat desimal : Jelaskan !
a.  4,89               b.  0,453         c.  308,04       d.  48,08         e.  13,2503
4.       Bulatkan bilangan ini sampai banyaknya angka signifikan yang dinyatakan dalam kurung : Jelaskan !
a.       3,832 ( 1 )                          d.  0,00529 ( 2 )        
b.       28,091 ( 4 )                       e.  3,2416 ( 3 )
c.        17,929 ( 3 )
5.       Jelaskan cara menyatakan  cm sebagai pecahan desimal dan bulatkan sampai :
a. seperpuluhan cm terdekat             c. 3 tempat desimal 
b. 2 angka signifikan                          d. 3 angka signifikan
Bab III
Pengukuran
A.      Kesalahan Hasil Pengukuran
Selisih antara ukuran sebenarnya dan ukuran yang di peroleh dari pengukuran itu disebut kesalahannya. Besarnya kesalahan ini dapat diperkecil dengan menggunakan alat pengukur yang lebih teliti dan cara pengukuran yang lebih teliti pula. Akan tetapi, hasil pengukuran tidak akan pernah eksak sekalipun tidak terjadi kesalahan cara mengukurnya. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui pada setiap keadaan, sampai di mana kita dapat mempercayai pengukuran kita, yaitu kita harus mengetahui kesalahan maksimum yang dapat di tenggang.
Berikut ini akan diuraikan beberapa macam kesalahan :
a.     Salah Mutlak
b.     Salah Relatif
c.     Persentase Kesalahan
1.       Salah Mutlak
Pandanglah pengukuran suatu panjang baut. Jika kita menggunakan penggaris yang ditera dalam sentimeter, maka kita dapat mengatakan bahwa panjangnya ialah 5 cm. Ini tidak berarti bahwa panjangnya 5 cm. Kita mengatakan bahwa pengukuran ini tepat sampai sentimeter terdekat, dan kita mengatakan bahwa satuan terkecil dari pengukuran ialah 1 cm. Jadi panjang sebenarnya ialah lebih dekat ke 5 cm dari pada ke 4 cm atau  ke 6 cm, yaitu panjangnya terletak pada suatu tempat antara 4,5 cm dan 5,5 cm dan kesalahannya sebesar-besarnya 0,5 cm. Kita mengatakan bahwa salah mutlaknya ialah 0,5 cm.
Perhatikan dari penjelasan gambar berikut ini bahwa batas atas panjang baut ialah 5,5 cm dan batas bawahnya ialah 4,5 cm Dengan demikian salah mutlak adalah setengah dari satuan ukuran terkecil.
                                                    5,5 cm  Batas atas pengukuran

                                                     5 cm  Pengukuran sampai cm terdekat

                                                      4,5 cm   Batas bawah pengukuran

                             0,5     0,5 cm    =  Salah Mutlak



salah mutlak  =   satuan ukuran terkecil
Jadi dapat disimpulkan bahwa :
Contoh :
Seorang siswa dari program keahlian Tata Boga akan membuat kue,  bahan yang diperlukan 0,6 kg tepung dan 8 butir telor ayam.
Dari keadaan tersebut dapat diketahui aspek pengukuran sebagai berikut :
Tepung :
Satuan ukuran terkecil = 0,1 kg
Jadi salah mutlak  = ½  x 0,1 kg = 0,05 kg
Batas atas pengukuran = 0,65 kg
Batas bawah pengukuran = 0,55 kg
Telor :
Banyaknya telor ayam tepat 8 butir ( eksak )
2.       Salah Relatif
Besar kecilnya kesalahan sebetulnya dapat ditentukan oleh teliti tidaknya alat yang digunakan. Memilih alat ukur yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhannya.
Misalnya : seseorang bekerja membuat garis pinggir dari suatu lapangan sepakbola. Suatu kesalahan sebesar 1 cm sampai 5 cm adalah relatif tidak penting. Akan tetapi, suatu kesalahan 1 cm saja yang di perbuat oleh seorang tukang kayu akan menggagalkan pekerjaannya. Demikian halnya jika kita membuat kue dengan tepung 2 kg, yang dibubuhi esens terlalu banyak  ½ cangkir, akibatnya kue itu tidak enak dimakan. Sering kali kita memandang suatu kesalahan dibandingkan dengan pengukuran yang sebenarnya. Karena itu kita menggunakan istilah salah relatif ( nisbi ).
Salah relatif dirumuskan sebagai berikut :







Contoh : 
Seorang siswa membeli kain yang panjangnya 2,5 meter dengan satuan ukuran terkecil  0,1 meter, berapakah salah relatif dari pengukuran yang dilakukan ?
Jawab  :   Salah mutlak  = ½  x 0,1 m = 0,05 m
Salah relatif  =    = =

3.       Persentase Kesalahan
Untuk menghitung persentase kesalahan dari suatu pengukuran , terlebih dahulu dicari salah relatif dari pengukuran itu, kemudian mengalikan dengan 100 % ( yaitu dengan 1 )
Jadi persentase kesalahan dirumuskan sebagai berikut :



Persentase Kesalahan  =  Salah relatif  x 100 %




Contoh :
Sepucuk surat setelah ditimbang, ternyata beratnya 0,8 gram.
Carilah persentase kesalahan pengukuran itu ?
Jawab  :  satuan ukuran terkecil = 0,1 gram
Salah mutlak  = ½  x 0,1 gram = 0,05 gram
Salah relatif  =   =    
Persentase kesalahan =   x  100 %  =  6,25  %

B.      Toleransi
Pada industri modern yang menggunakan metode-metode produksi massal, bagian-bagian alat sering kali dibuat dalam pabrik-pabrik yang berbeda yang kemudian dikirim ke pabrik induk untuk dirakit. Karena itu penting sekali memastikan bahwa bagian-bagian alat itu dibuat cukup teliti, supaya cocok bila dirakit. Untuk itu biasanya kita menentukan kesalahan maksimum ukuran yang diperbolehkan dalam pembuatan bagian-bagiannya. Misalnya: Di sebuah pabrik kendaraan baut-bautnya  dibuat dengan mesin dan diharuskan berdiameter 6 mm spesifikasinya mungkin memperbolehkan diameternya antara 5,8 mm dan 6,2 mm. Selisih antara batas-batas ini yaitu 0,4 mm, disebut toleransi dalam pengukuran dan dinyatakan dengan ( 6 ± 0,2 ) mm.
Jadi toleransi dalam pengukuran ialah selisih antara pengukuran terbesar yang dapat diterima dan pengukuran yang terkecil yang dapat diterima.
Contoh : 
Toleransi yang diperkenankan untuk massa ( 15 ± 0,5 ) gram, berarti massa terbesar yang dapat diterima ialah 15 + 0,5 = 15,5 gram dan massa terkecil yang dapat diterima ialah 15 – 0,5 = 14,5 gram sehingga toleransinya adalah 1 gram.
C.      Batas-batas Pengukuran
1.    Penjumlahan Hasil Pengukuran
Untuk mengetahui batas-batas jumlah dari dua pengukuran perhatikan contoh berikut ini :
Contoh : 
Berapakah batas-batas jumlah dari hasil-hasil pengukuran 5,2 cm dan 3,6 cm, masing masing dibulatkan ke  0,1 cm terdekat ?
Jawab :   
Pengukuran 5,2  cm terletak dalam jangkauan ( 5,2 ± 0,05 ) cm, yaitu antara 5,15 cm dan 5,25 cm
Pengukuran 3,6 cm terletak dalam jangkauan ( 3,6 ± 0,05 ) cm, yaitu antara 3,55 cm dan 3,65 cm
Jumlah maksimum diperoleh dari jumlah batas atas pengukuran yang pertama dengan batas atas pengukuran yang kedua, sedangkan jumlah minimum diperoleh dari jumlah batas bawah pengukuran yang pertama dengan batas bawah pengukuran yang kedua
Jadi jumlah maksimum adalah 5,25 cm + 3,65 cm = 8,90 cm dan jumlah minimum adalah 5,15 cm +3,55 cm = 8,70 cm
Perhatikan bahwa ternyata jumlah pengukuran 8,8 cm mempunyai salah mutlak 0,10 cm, yang sama dengan jumlah dari salah mutlak dalam pengukuran-pengukuran asal.
Jadi, pengukuran-pengukuran kalau dijumlahkan , maka salah mutlak dari jumlah pengukuran sama dengan jumlah salah mutlak dari tiap pengukuran asal.
2.    Pengurangan Hasil Pengukuran
Untuk mengetahui batas-batas selisih dari dua pengukuran perhatikan contoh berikut ini :
Contoh : 
Berapakah batas-batas selisih antara hasil-hasil pengukuran 5 cm dan 3 cm, masing masing dibulatkan ke sentimeter terdekat ?
Jawab :  
Pengukuran 5 cm terletak dalam jangkauan ( 5 ±  0,5 ) cm, yaitu antara 4,5 cm dan 5,5 cm
Pengukuran 3 cm terletak dalam jangkauan ( 3 ± 0,5 ) cm, yaitu antara 2,5 cm dan 3,5 cm
Selisih maksimum didapat dari jika nilai terbesar dari pengukuran yang pertama dikurangi dengan nilai terkecil dari pengukuran yang kedua.Jadi, jumlah maksimum  =  5,5 cm  -  2,5 cm  =  3 cm
Selisih minimum didapat dari jika nilai terkecil dari pengukuran yang pertama dikurangi dengan nilai terbesar dari pengukuran yang kedua
Jadi,  selisih minimum  =  4,5 cm  -  3,5 cm  =  1 cm
Perhatikan bahwa ternyata selisih pengukuran 2 cm mempunyai salah mutlak 1 cm, yang sama dengan jumlah dari salah mutlak dalam pengukuran-pengukuran asal.
Jadi, jika hasil-hasil pengukuran dikurangkan, maka salah mutlak selisih pengukuran sama dengan jumlah salah mutlak dari tiap pengukuran asal.
3.     Perkalian Hasil-hasil Pengukuran
Untuk mengetahui batas-batas maksimum dan minimum perkalian  dari dua pengukuran perhatikan contoh berikut ini :
Contoh :
Berapakah batas-batas luas persegi panjang dengan panjang 4,5 m dan lebar 3,4 m, masing masing dibulatkan ke  0,1 m  terdekat ?
Jawab : 
Pengukuran  4,5 m terletak dalam jangkauan ( 4,5  ±  0,05 ) m, yaitu antara  4,45 m dan  4,55 m
Pengukuran 3,4 m terletak dalam jangkauan ( 3,4  ±  0,05 ) m, yaitu antara  3,35 m dan  3,45 m
Luas maksimum yang mungkin  = ( 4,55 x 3,45 ) m2 = 15,6975 m2­
Luas minimum yang mungkin  = ( 4,45 x 3,35 ) m2 = 14,9075 m2­
Jadi luas sebenarnya terletak antara 14,9075 m2­ dan 15,6975 m2 . Padahal luas yang dihitung atas dasar pengukuran panjang dan lebar adalah   ( 4,5 x 3,4 ) m2 = 15,3 m2­
Jadi dapat disimpulkan bahwa :
Luas maksimum = batas atas  I  x  batas atas  II
Luas minimum  = batas bawah  I  x  batas bawah  II
Rangkuman :
1.         Salah mutlak  = ½  x satuan ukuran terkecil.                               
2.                     

3.         Persentase Kesalahan  =  Salah relatif  x 100 %
4.          Toleransi dalam pengukuran ialah selisih antara pengukuran terbesar yang dapat diterima dan pengukuran yang terkecil yang dapat diterima.
5.         jika hasil-hasil pengukuran dijumlahkan , maka salah mutlak jumlah pengukuran sama dengan jumlah salah mutlak dari tiap pengukuran asal.
6.         jika hasil-hasil pengukuran dikurangkan, maka salah mutlak selisih pengukuran sama dengan jumlah salah mutlak dari tiap pengukuran asal.
Latihan 2 :
1.         Jelaskan dan lengkapi daftar berikut ini :
Pengukuran
Satuan ukuran terkecil
Salah mutlak
Batas atas pengukuran
Batas bawah pengukuran
a.    8 cm
b.    6,7 m
c.    37,2 gram
d.    8,63 m2





2.       Tinggi seorang anak laki-laki ialah 153 cm, teliti sampai sentimeter terdekat. Antara batas-batas manakah letak tinggi yang sebenarnya dan jelaskan?
3.       Carilah salah relatif dan persentase kesalahan dari hasil pengukuran berikut :
a. 11 cm             b. 0,8 kg         c. 4,15 m        d. 0,000025 ton
4.       Nyatakan ukuran –ukuran yang dapat diterima yang terbesar dan terkecil berikut ini dan jelaskan toleransinya :
a. ( 125 ± 4 ) detik                    c. ( 2,58 ± 0,007 ) mm         
b. ( 1,02 ± 0,03 ) dm                 d. (  1046 ± 2,5 ) km2
5.       Carilah batas-batas atas dan bawah dari jumlah dan selisih yang sebenarnya dari pengukuran – pengukuran berikut ini :
a. 7,6 gram dan 2,9 gram        c. 1276 km dan 291 km
b. 3,16 mm dan 0,85 mm        d.  25,74 m dan 2,5 m
6.       Berapakah panjang minimum kawat yang harus dibeli supaya cukup untuk membuat bingkai dari suatu segi lima beraturan dengan sisi 15 cm
7.       Panjang dan lebar sampul diukur sampai sentimeter terdekat dan hasilnya masing-masing 12 cm dan 10 cm. Carilah jangkauan yang mungkin dari keliling sampul itu.
8.       Panjang segulungan kawat ialah ( 250 ± 10 ) meter . Saya hendak memotong 10 potongan masing-masing sepanjang 15 meter dari gulungan itu , tetapi pengukuran setiap potong mempunyai salah mutlak sebesar 0,1 m. Dalam batas-batas mana sisa potongannya?
9.       Dari 2,10 meter panjang kain , dipotong sebagian yang panjangnya 65,5 cm . Berapakah batas-batas dari sisanya ? Jelaskan !
10.     Jelaskan batas-batas dari luas suatu pekarangan yang berbentuk segitiga siku-siku dengan sisi-sisi tegak 9 m dan 6 m

Bab IV
Penutup

Bahan ajar ini membahas konsep aproksimasi dalam masalah pengukuran secara umum, belum memberikan contoh-contoh dari semua program keahlian yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan. Pada akhir setiap pembahasan diberikan soal latihan dan apabila ada kesulitan dalam menjawab soal latihan dapat didiskusikan dengan peserta lain.
Agar peserta diklat dapat lebih memahami konsep aproksimasi dalam masalah pengukuran yang sesuai dengan program keahlian yang diajarkan di sekolah, disarankan peserta mendiskusikan dengan peserta lain untuk mengembangkan dan memberikan contoh-contohnya. 

Kunci Jawaban

Latihan 1 :
1.    a, d, f, g, dan h diperoleh dengan mengukur
2.    a. 684570                        b. 684600                  c. 685000                   d. 680000
3.    a. 4,9                    b. 0,5              c. 308,0          d. 48,1            e. 13,3
4.    a. 4                        b. 28,09          c. 17,9            d. 0,0053        e. 3,24
5.    a. 1,2 cm              b. 1,2 cm                    c. 1,186 cm                d. 1,19 cm

Latihan 2 :
1.    jelas
2.    152,5 cm sampai 153,5 cm
3.    a.                    b.              c.                        d.
4.    a. toleransinya 8 detik   b. 0,6 dm        c. 0,014 mm               d. 5 km2
5.    jelas
6.    jelas
7.    Jangkauan keliling 42 cm sampai 46 cm
8.    99 m sampai 111 m
9.    143,95 cm sampai 145,05 cm
10.  jelas
Daftar Pustaka

Abdul kodir dkk, 1976, Matematika untuk SMA, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

E.T. Ruseffendi, 1989, Dasar – dasar Matematika Modern dan Komputer untuk Guru, Bandung, Tarsito

Gerard Polla dkk, 1982, Matematika untuk SMTK, Jakarta, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

PAUL CALTER, 1979, Theory and Problems of Technical Mathematics, Schaum’s outline, Mc-GRAW.HILL BOOK COMPANY

ST. NEGORO – B. HARAHAP, 1985, Ensiklopedia Matematika, Jakarta, Ghalia Indonesia.

http : // www.mc.edu / courses /csc / 110 / module 4-1.html

Arsip Blog